Subak Terancam Punah di Bali Tantangan Besar di Depan Mata

Spread the love
Rate this post

Subak Terancam Punah di Bali, Tantangan Besar Ada di Depan Mata

Sistem irigasi tradisional khas Bali, subak, kini menghadapi ancaman serius akibat masifnya alih fungsi lahan dan pesatnya pembangunan pariwisata. Kondisi tersebut memicu kekhawatiran banyak pihak karena subak bukan hanya soal pertanian, tetapi juga bagian penting dari budaya dan identitas masyarakat Bali.

Lahan Subak di Denpasar Terus Menyusut

Data terbaru menunjukkan luas lahan subak aktif di Kota Denpasar kini tersisa sekitar 1.915 hektare dari total 42 subak yang tersebar di empat kecamatan. Wilayah yang paling terdampak berada di Denpasar Selatan dan Denpasar Utara akibat meningkatnya pembangunan permukiman dan infrastruktur.

Ketua Unit Subak Universitas Udayana, I Ketut Suamba, menilai penyusutan lahan subak dapat berdampak besar terhadap ketahanan pangan, lingkungan, hingga keberlangsungan budaya Bali. Menurutnya, subak memiliki peran sosial dan spiritual yang tidak bisa dipisahkan dari kehidupan masyarakat Pulau Dewata.

Alih Fungsi Lahan Jadi Ancaman Utama

Maraknya pembangunan vila, hotel, dan kawasan komersial disebut menjadi salah satu penyebab utama menyusutnya lahan pertanian di Bali. Tingginya nilai jual tanah membuat banyak pemilik lahan memilih menjual sawah mereka dibanding mempertahankannya untuk bertani.

Fenomena ini semakin terasa di daerah wisata seperti Badung dan Denpasar. Bahkan sejumlah diskusi di media sosial menyebut alih fungsi lahan di Bali sudah berlangsung terlalu cepat dan sulit dikendalikan.

Generasi Muda Mulai Meninggalkan Pertanian

Selain tekanan pembangunan, subak juga menghadapi masalah regenerasi petani. Banyak generasi muda Bali kini lebih memilih bekerja di sektor pariwisata atau industri kreatif karena dianggap lebih menjanjikan secara ekonomi dibanding bertani.

Akibatnya, jumlah petani aktif terus berkurang dan pengelolaan subak menjadi semakin berat. Kondisi tersebut dikhawatirkan akan mempercepat hilangnya sistem pertanian tradisional yang telah diwariskan selama ratusan tahun.

Pemerintah Mulai Bergerak Lindungi Subak

Pemerintah Kota Denpasar mulai mengambil langkah perlindungan dengan memberikan insentif kepada pekaseh dan pangliman subak. Selain itu, sejumlah regulasi terkait larangan alih fungsi lahan pertanian juga mulai diperketat.

Kolaborasi dengan desa adat juga dilakukan untuk mengembangkan konsep agrowisata berbasis subak agar pertanian tetap memiliki nilai ekonomi di tengah dominasi sektor pariwisata.

Subak Bukan Sekadar Sistem Irigasi

Subak telah diakui UNESCO sebagai warisan budaya dunia karena mengandung filosofi Tri Hita Karana yang menekankan keseimbangan antara manusia, alam, dan spiritualitas. Sistem ini selama berabad-abad menjadi fondasi kehidupan pertanian masyarakat Bali.

Jika lahan subak terus menyusut tanpa pengawasan ketat, Bali bukan hanya kehilangan sawah produktif. Tetapi juga kehilangan salah satu simbol budaya paling penting yang selama ini menjadi identitas Pulau Dewata.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *